Bernalar Kritis Dan Kreatif Dalam Pembelajaran IPA

Dalam mempersiapkan generasi tangguh dimasa depan, berbagai metode dan strategi terus dilakukan dan diperbaiki baik oleh pemerintah pusat yang dalam hal ini Kementerian Pendidikan maupun Dinas Pendidikan daerah setempat sebagai pengambil kebijakan dari sebuah aturan yang diterbitkan pemerintah pusat. Berbagai uji petikpun juga dilakukan oleh berbagai pihak yang peduli tentang kemajuan pendidikan, maupun guru sebagai garda terdepan pejuang pendidikan. Menurunnya karakter peserta didik dikarenakan masa Pandemi Covid-19 selama hampir 2 tahun ini, menjadikan keprihatinan yang besar bagi seluruh lapisan masyarakat dan juga akademisi. Bagaimana mengembalikan kondisi saat ini kepada kondisi sebelumnya bukanlah hal yang mudah. Peserta didik sudah mengalami proses pembiasaan selama hampir dua tahun, sehingga mereka sudah merasa nyaman dengan pembelajaran jarak jauh. Guru pun harus lebih jeli dan teliti dalam menentukan strategi pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas sehingga peserta didik menjadi lebih senang belajar disekolah.

Profil Pelajar Pancasila adalah salah satu produk pendidikan yang sesuai dengan visi dan misi kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020 – 2024. Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif Keenam ciri utama tersebut bisa diterapkan dalam kegiatan pembelajaran dan disemua mata pelajaran, dengan cara ataupun strategi masing-masing berdasarkan ciri khas dari setiap mata pelajaran.

Dalam tulisan ini, penulis akan mengambil dua ciri utama Pelajar Pancasila yang sudah diterapkan dalam pembelajaran IPA, yaitu bernalar kritis dan kreatif. Banyak kegiatan yang bisa digali dari materi IPA, bahkan disetiap materi pokok, ada kegiatan-kegiatan yang memunculkan bernalar kritis dan kreatif. Pembelajaran dalam IPA lebih sering menggunakan pendekatan saintifik (Saintific Approach), dimana didalamnya terdapat tahapan-tahapan yang menuntut peserta didik mampu untuk melakukan analisis, kritis, dan juga kreatif.

Pelajar yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Elemen-elemen dari bernalar kritis adalah memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir, dan mengambil keputusan. Sedangkan pelajar yang kreatif adalah pelajar yang mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Elemen kunci dari kreatif terdiri dari menghasilkan gagasan yang orisinal serta menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal.

Pada saat peserta didik diberikan suatu masalah, maka mereka akan memproses masalah tersebut dengan cara mengaitkan berbagai informasi yang dapat mendukung permasalahan tersebut dan pada akhirnya peserta didik dapat mengambil simpulan dan juga solusinya. Setelahnya, peserta didik akan melakukan evaluasi dan juga refleksi proses belajar yang mereka lakukan. Memang tidak semua peserta didik mampu melakukan tahapan ini, tetapi guru sebagai fasilitator memiliki kewajiban untuk mendampingi dan membimbing peserta didik yang mengalami kesulitan dalam bernalar kritis.

Peserta didik juga dapat memunculkan daya imajinasi dan kreativitas mereka melalui penugasan proyek. Penugasan proyek diberikan guru secara berkelompok dengan rancangan yang disusun oleh kelompok masing-masing, tetapi dikonsultasikan dengan guru. Peserta didik diberi kebebasan yang seluas-luasnya untuk merancang proyeknya. Dengan kebebasan inilah, akan bermunculan kreativitas dan ide hebat mereka sekaligus akan terlihat rasa tanggung jawab mereka terhadap tugas yang diberikan. Memang tidak mudah untuk memberikan tugas proyek kepada peserta didik, tetapi guru tetap harus mencoba walaupun dalam bentuk proyek yang sederhana. Jika peserta didik sudah terbiasa dengan tugas proyek, maka tugas-tugas lainnya juga akan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

 

Nanik Sumarni, S.Pd., M.Pd

Guru IPA

SMP Negeri 1 Salatiga

GALLERY

Humas SMP Negeri 1 Salatiga

-

Tinggalkan Komentar